TUGAS INDIVIDU UTS
MATA KULIAH AGAMA ISLAM
DOSEN PENGAMPU: M. QADHAFI, M.Pd.I
NAMA
|
:
|
EKA
PURWANINGSIH
|
N.P.M
|
:
|
1643050039
|
PRODI
|
:
|
FARMASI
|
UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA
PROGRAM STUDI FARMASI
JAKARTA
2016
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pendidikan Agama Islam merupakan pondasi
yang sangat mendasar dan mempunyai peranan yang sangat penting bagi hidup dan
kehidupan bangsa Indonesia khususnya bagi umat Islam. Istilah agama dan manusia
memiliki hubungan yang sangat erat kaitannya, karena agama sangat dibutuhkan
oleh manusia agar manusia memiliki pegangan hidup sehingga ilimu dapat menjadi
lebih berarti, dalam hal ini adalah Islam. Dengan ilmu kehidupan manusia akan
bermutu dengan agama kehidupan manusia akan lebih bermakna, kerena dengan ilmu
dan agama kehidupan manusia akan sempurna dan bahagia
1.2
Biografi Penulis
Penulis kelahiran 1379 H (1960 M) ini memiliki nama
lengkap Dr. `Aidh Abdullah bin `Aidh al-Qarni. Nama al-Qarni diambil dari dari
daerah asalnya di wilayah selatan Arab Saudi. Aidh Al Qarni menuntut ilmu di
Madrasah Ibtidaiyah Ali Salman, dia juga belajar di Ma'had Ilmi sejak bangku
SMP, hingga meraih gelar S1 dan S2 di tempat yang sama. Ia menamatkan program
sarjana (Lc), magister (M.A.) dan doktor di Universitas Islam Imam Muhammad bin
Su`ud, Riyadh, Arab Saudi. Ia hafal Al-Quran dan kitab Bulughul Maram, serta
telah mengajarkan 5.000-an hadis dan 10.000-an bait syair. Sekitar 1.000-an judul
kaset yang berisi ceramah agama, kuliah, serta kumpulan puisi dan syair
karyanya telah dipublikasikan. Keberaniannya menyuarakan kebenaran juga sempat
membuatnya merasakan jeruji besi pemerintah Al-Saud. Ia dan kawan-kawan ulama
mudanya berani berteriak lantang menentang kehadiran pasukan Amerika Serikat di
Arab Saudi atas undangan pemerintah Al-Saud Al-Qarni juga dikenal sebagai tokoh
pembaruan di Arab Saudi yang mencoba melakukan pendekatan dengan `aliran` lain.
Tulisannya setiap pekan di harian Asharqul Awsath selalu ditunggu pembaca dan
menaikkan tiras koran yang semula diterbitkan di London itu. Ketika berada di
balik jeruji penjara Aidh Al Qarni memilih untuk terus menulis.
Berlembar-lembar tulisan pun menjadi bukti ketekunan pria yang lahir di tahun
1379 H dan berasal dari perkampungan Al-Qarn, sebelah selatan Kerajaan Arab
Saudi, Setelah keluar dari penjara, Aidh Al Qarni melanjutkan tulisannya. Hingga
akhirnya lahirlah buku La Tahzan yang diterjemahkan dengan Jangan Bersedih.
Hasilnya sungguh fenomenal. Inilah buku yang telah diterbitkan oleh puluhan
penerbit dan mencapai angka penjualan fantastis. Buku ini sudah diterjemahkan
ke dalam 29 bahasa dunia, buku ini juga sempat menjadi buku terlaris. Kelebihan
buku Al Qarni terlihat pada bahasan-bahasannya yang fokus, penuh hikmah, dan
selalu memberi jeda untuk merenung sebelum berlanjut pada bahasan berikut. Pada
bagian penutup, hadir pula kata-kata bijak yang menjadi intisari
tulisan-tulisan sebelumnya. Dalam bukunya pula, Al Qarni mengajak pembaca agar
tidak menyesali kehidupan, tidak menentang takdir, atau menolak dalil-dalil
dalam Alquran dan sunnah. Al Qarni hafal Al qur'an, 5000 hadits, dan 10 ribu
bait syair Arab klasik hingga kontemporer ini sempat bertandang ke sejumlah
tempat dan menemui tokoh nasional. Al Qarni juga ingin terus berdakwah dan
menyuarakan ajaran-ajaran Islam kepada seluruh umat muslim.
1.3 Tentang Buku
Nama buku yang diresume adalah “La Tahzan” artinya
Jangan bersedih. Penulisnya bernama lengkap Dr. `Aidh Abdullah bin `Aidh
al-Qarni, penerbit bukunya adalah Qisthi Press.
BAB
II
ISI
Ya Allah !
(Semua yang ada di
langit dan dibumi selalu meminta pada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan) (QS.
Ar-Rahman: 29)
Ketika laut bergemuruh, ombak
menggunung, dan angina bertiup kenvang menerjang, semua penumpang kapal akan
panic dan menyeru: “Ya Allah!”
Ketika seorang tersesat ditengah gurun
pasir, kendaraan menyimpang jauh dari jalurnya, dan para kafilah bingung
mementukan arah perjalanannya, mereka akan menyeru: “Ya Allah!”
Ketika musibah menimpa, bencana alam
melanda, dan tragedi terjadi, mereka yang tertimpa akan selalu berseru: “Ya
Allah!”
Ketika pintu-pintu permintaan telah
tertutup, dan tabir-tabir permohonan digeraikan, orang-orang mendesah: “Ya
Allah!”
Ketika semua cara tak mampu
menyelesaikan, setiap jalan terasa menyempit, harapan terputus, dan semua jalan
pintas membuntu, merekapun menyeru: “Ya Allah!”
Ketika bumi terasa menyempit dikarenakan
himpitan persoalan hidup, dan jiwa terasa tertekan oleh beban berat kehidupan
yang harus Anda pikul, menyerulah: “Ya Allah!”
Kuingat
Engkau saat alam begitu gelap gulita
Dan
wajah zaman berlumuran debu hitam
Kusebut
nama-Mu dengan lantang disaat fajar menjelang,
Dan
hampir fajarpun merekah seraya menebar senyuman indah
Setiap
ucapan baik, doa yang tulus, rintihan yang jujur, air mata yang menetes penuh
keikhlasan, dan semua keluhan yang menggundahgulanakan hati adalah hanya pantas
ditunjukkan ke hadirat-Nya.
Setiap dini hari menjelang, tengadahkan
kedua telapak tangan, julurkan lengan penuh harap, dan arahkan terus tatapan
matamu ke arah-Nya untuk memohon pertolongan! Ketika lidah bergerak, tak lain
hanya untuk menyebut, mengingat dan berdzikir dengan nama-Nya. Dengan begitu,
hati akan tenang, jiwa akan damai syaraf tak lagi menegang, dan iman kembali
berkobar-kobar. Demikianlah, hanya selalu menyebut nama-Nya, kayakinan akan
semakin kokoh. Karena,
(Allah
Maha Lembut terhadap hamba-hamba-Nya.) (Qs. Asy-Syura: 19)
Allah:
nama
yang paling bagus, susunan huruf yang paling indah, ungkapan yang paling tulus,
dan kata yang sangat berharga.
(Apakah kamu tahu ada
seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah ?)
(QS. Maryam: 65)
Allah:
Milik-Nya
semua kekayaan, keabadian, kekuatan, pertolongan, kemuliaan, kemampuan dan
hikmah.
(Milik siapakah kerajaan
pada hari ini? Milik Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.)
(QS. Ghafir: 16)
Allah:
dari-Nya
semua kasih sayang, perhatian, pertolongan, bantuan cinta dan kebaikan.
(Dan,
apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datang-nya) (QS. An-Nahl: 53
Allah: pemilik
segalanya keagungan, kemuliaan, kekuatan dan keperkasaan.
Betapapun
kulukiskan keagungan-Mu dengan deretan huruf,
Kekudusan-Mu
tetap meliputi semua arwah
Engkau
tetap Yang Maha Agung, sedang semua makna,
akan
lebur, mencair, ditengah keagungan-Mu, wahai Rabb-ku
Ya Allah, gantikanlah kepedihan ini
dengan kesenangan, jadikan kesedihan itu awal kebahagiaan, dan sirnakan rasa
takut ini menjadi rasa tentram. Ya Allah, dinginkan panasnya kalbu dengan salju
keyakinan, dan padamkan bara jiwa dengan air keimanan.
Wahai Rabb, anugerahkan pada mata yang
tak dapat terpejam ini rasa kantuk dari-Mu yang menentramkan. Tuangkan dalam
jiwa yang bergejolak ini kedamaian. Dan, ganjarlah dengan kemenangan yang
nyata. Wahai Rabb, tunjukkanlah pandangan yang kebingungan ini kepada cahaya-Mu
yang lurus. Dan tuntunlah orang-orang yang menyimpang dari jalan-Mu merapat
kehidayah-Mu.
Ya Allah, sirnakan keraguan terhadap
fajar yang pasti dating dan memancar terang, dan hancurkan perasaan jahat
dengan secercah sinar kebenaran. Hempaskan semua tipu daya setan dengan bantuan
bala tentara-Mu.
Ya Allah, sirnakan kami dari rasa sedih
dan duka, dan usirlah kegundahan dari jiwa kami semua.
Yang Lalu Biar Berlalu
Mengingat dan mengenang masa lalu,
kemudian besedih atas nestapa dan kegagalan di dalamnya merupakan tindakan
bodoh dan gila. Itu, sama artinya dengan membunuh semangat, memupuskan tekad
dan mengubur masa depan yang belum terjadi. Bagi orang yang berpikir,
berkas-berkas masa lalu akan dilipat dan tak pernah dilihat kembali. Cukup
ditutup rapat-rapat, lalu disimpan dalam ruang pengelupaan, diikat dengan tali
yang kuat dalam penjara pengacuhan selamanya. Atau, diletakkan dalam ruang
gelap yang tak tertembus cahaya. Yang demikian, karena masa lalu telah berlalu
dan habis. Kesedihan tak akan mampu mengembalikannya lagi, keresahan tak akan
sanggup memperbaikinya kembali, dan kegalauan tidak akan dapat menghidupkannya
kembali, karena ia memang sudah tidak ada.
Membaca kembali lembaran masa lalu hanya
akan memupuskan masa depan, mengendurkan semangat dan menyia-nyiakan waktu yang
sangat berharga. Dalam Al-Qur’an, setiap kali usai menerangkan kondisi suatu
kaum dan apa saja yang telah mereka lakukan, Allah selalu mengatakan “Itu adalah umat yang lalu” Begitulah, ketika suatu perkara
habis, maka selesai pula urusannya. Dan tak ada gunanya mengurai kembali
bangkai zaman dan memutar kembali roda sejarah.
Orang yang berpikir jernih tidak akan
pernah melihat dan sedikitpun menoleh ke belakang. Pasalnya, angin akan selalu
berhembus kedepan dan segala sesuatu bergerak maju kedepan. Maka itu, janganlah
pernah melawan sunah kehidupan!.
Biarkan Masa Depan Datang Sendiri
(Telah
pasti datangnya ketetapan Allah, maka jangan kamu meminta agar disegerakan (dating)nya)
(QS. An-Nahl: 1)
Jangan pernah mendahului sesuatu yang
belum terjadi !, Hari esok adalah sesuatu yang belu nyata dan dapat diraba, belum berwujud, dan tidak
memiliki rsa dan warna. Jika, demikian mengapa kita harus menyibukkan diri dengan
hari esok, mencemaskan kesialan-kesialan yang mungkin akan terjadi padanya,
memikirkan kejadian-kejadian yang akan menimpanya, dan meramalkan
bencana-bencana yang aka nada didalamnya. Yang jelas hari esok masih ada
didalam alam gaib dan belum turun kebumi. Maka, tidak sepantasnya kita
menyebrangi sebuah jembatan sebelum sampai diatasnya. Sebab siapa yang tahu
bahwa kita akan sampai atau tidak pada jembatan itu. Bisa jadi kita akan
berhenti jalan kita sebelum sampai ke jembatan itu, atau mungkin pula jembatan
itu hanyut terbawa arus terlebih dahulu sebelum kita sampai diatasnya. Dan bisa
jadi pula, kita akan sampai pada jembatan itu dan kemudian menyebranginya.
Dalam syariat, memberi kesempatan kepada pemikiran untuk memikirkan masa depan
dan membuka-buka alam gaib, dan kemudian terhanyut dalam kecemasan-kecemasan
yang baru diduga darinya, adalah sesuatu yang tidak dibenarkan. Pasalnya, hal
itu termasuk thulul amal (angan-angan
yang terlalu jauh). Secara nalar, tindakan itupun tak masuk akal, karena sama
halnya dengan berusaha perang melawan baying-bayang. Namun ironis, kebanyakan
manusia didunia ini justru banyak yang termakan oleh ramalan-ramalan tentang
kelaparan, kemiskinan, wabah penyakit, dan krisis ekonomi yang kabarnya akan
menimpa meraka. Padahal semua itu hanya bagian dari kurikulum yang diajarkan
didalam “sekolah-sekolah setan”.
“Setan
menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat
kejahatan (kikir), sedangkan Allah menjanjikan untukmu ampun daripada-Nya dan
karunia” (QS.
Al-Baqarah: 268)
Mereka yang menangis sedih menatap masa
depan adalah yang menyangka diri mereka akan hidup kelaparan, menderita sakit
selama setahun, dan memperkirakan umur dunia ini tinggal seratus tahun lagi.
Padahal, orang yang sadar bahwa usia hidupnya berada di ‘genggaman yang lain’
tentu tidak akan mengendalikannya untuk sesuatu yang tidak ada. Dan tidak tahu
kapan akan mati, tentu salah besar bila justru menyibukkan diri dengan sesuatu
yang belum ada dan tidak berwujud.
Biarkan hari esok dating dengan
sendirinya. Jangan pernah menanyakan kabar beritanya, dan jangan pula menanti
serangan petakanya. Sebab, hari ini anda sudah sangat sibuk.
Isi
Waktu Luang Dengan Berbuat
(Mereka
rela berada bersama orang-orang yang tidak pergi berperang)
(QS. At-Taubah: 87)
Saat paling berbahaya bagi akal adalah
manakala pemiliknya menganggur dan tidak berbuat apa-apa. Orang yang seperti
itu ibarat mobil berjalan dengan kecepatan tinggi tanpa sopir, akan mudah oleng
kekanan dan kekiri.
Waktu kosong itu tak ubahnya dengan
siksaan halus ala penjara China, meletakkan narapidana dibawah pipa air yang
hanya dapat meneteskan air satu tetes air setiap menit selama bertahun-tahun.
Dan dalam masa penantian sangat panjang itulah , biasanya seorang napi akan
menjadi stress dan gila.
Berenti dari kesibukan itu kelengahan,
dan waktu kosong adalah pencuri yang culas. Apapun akalnya, tak lain adalah
mangsa empuk yang siap dicabik-cabik oleh ganasnya terkaman kedua hal tadi
yaitu kelengahan dan si ‘pencuri’ tadi.
Bunuhlah setiap waktu kosong dengan
‘pisau’ kesibukan! Dengan cara itu, dokter-dokter dunia akan berani menjamin
bahwa anda telah mencapai 50 % dari kebahagiaan. Lihatlah para petani, nelayan,
dan para kuli bangunan, mereka dengan ceria mendendangkan lagu-lagu seperti
burung-burung dialam bebas. Mereka tidak seperti orang yang tidur diatas
ranjang empuk, tetapi selalu gelisah dan menyeka air mata kesedihan.
Telitilah!
Orang yang berpendirian kuat dan akurat
dalam mengambil keputusan adalah orang yang tidak terburu-buru memberikan
keputusan pada saat banyak mendengar berita yang simpang siur. Sebab mengambil
keputusan secara terburu-buru disaat banyaknya berita simpang siur, masalah
akan menjadi semakain ruwet. Ia lebih dulu menyeleksi berita-berita itu,
mengeceknya kembali, mencari tahu mengapa berita itu muncul dan sampai
kepadanya, dan kemudian berkonsultasi dengan orang yang ahli. Tentu saja
pendapat yang matang lebih baik daripada pendapat yang cepat tapi terburu-buru.
Dikatakan, jika anda salah memberi keputusan dengan akibat si terdakwa bebas,
akan lebih baik daripada salah memberi keputusan dengan akibat ia dijatuhi
hukuman.
(Wahai
orang-orang yang beriman, jika dating kepadamu orang fasik membawa suatu
berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan musibah kepada
suatu kaum tanpa mengetahui keadaan yang menyebabkan kamu menyesal atas
perbuatan itu.) (QS.
Al-Hujurat: 6).
Al-Qur’an,
Kitab yang Penuh Berkah
Membaca Al-Qur’an dengan perenungan,
pendalaman tadabbur merupakan satu
dari sekianbanyak sebab kebahagiaan dan kelapangan hati. Allah menyifati
kitab-Nya ini sebagai petunjuk, cahaya dan penawar atas semua yang ada didalam
dada. Disamping itu, Allah juga menyifati sebagi rahmat.
(Hai
manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabb-mu dan
penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) didalam dada dan petunjuk serta
rahmat bagi orang-orang yang beriman) (QS. Yunus: 57)
(Maka,
apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci) (QS. Muhammad: 24)
(Maka,
apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan
dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak didalamnya)
(QS. An-Nisa: 82)
(Ini
adalah kitab yang kami turunkan kepadamu dengan penuh berkah supaya mereka
memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang
mempunyai pikiran) (QS.
Shad: 29)\
Kalangan ahlul ilmi mengatakan, “Membacanya,
mengamalkannya, menjadikannya sumber hukum, dan mengambil istinbath darinya sudah merupakan berkah”
Seorang yang salih berkata, “Aku pernah
merasa kesuntukan (yang hanya diketahui oleh Allah) dan dilanda keresahan yang
membantu. Maka segera aku mengambil mushaf
Al-Qur’an, dan membacanya. Tiba-tiba saja kesuntukan itu lenyap, dan Allah
menggantikan dengan kegembiraan dan keriangan.”
(Sesungguhnya
AL-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus)
(QS. Al-Isra`: 9)
(Dengan
kitab itu Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya kejalan
keselamatan) (QS.
Al-Ma`idah: 16)
(Dan,
demikianlah kami wahyukan kepada wahyu (Al-Qur’an) dengan perintah kami)
(QS. As-Syura: 52)
Istighfar
Adalah Pembuka Jalan
Ibnu Taimiyyah berkata, “Jika masalah
yang saya hadapi mengalami kebuntuan, maka saya akan ber-istighfar kepada Allah
sebanyak seribu kali, niscaya Allah akan membukakan jalan keluar.
(Maka
aku katakan kepadan mereka: “Mohonlah ampun kepada Rabb-mu, sesungguhnya Dia
Maha Pengampun) (QS.
Nuh: 10)
Salah satu sebab ketenangan hati dan
pikiran adalah ber-istighfar kepada Dzat
yang memiliki keagungan (Dzul Jalal)
Banyak hal yang dianggap berbahaya
tetapi jusrtu mendatangkan manfaat. Setiap qadha` pada dasarnya baik, termasuk
kemaksiatan yang ia lakukan.
Dalam Al-Musnad karya Imam Ahmad, disebutkan: “Allah tidak memberlakukan sebuah qadha` kepada hamba-Nya kecuali itu menjadi sebuah kebaikan baginya”
(Jika
mereka menganiaya dirinya, mereka datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada
Allah dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati
Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang)
(QS. An-Nisa`: 64)
(Pada
hari mereka melihat hari kebangkitan itu, mereka merasa seakan-akan tidak
tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) waktu sore dan pagi hari) (QS. An-Nazi`at: 46)
Ibnu taimiyyah kagum kepada orang-orang
besar yang pernah dikenal dalam catatan sejarah. Ujian, cobaan, dan bencana
mereka hadapi seperti kucuran air hujan atau hembusan angin. Dan, dibarisan
paling depan dari mereka adalah pemimpin semua makhluk, Muhammad Rasulullah.
Dalam perjalanannya menuju Madinah, dia bersembunyi didalam gua bersama
sahabatnya, Abu Bakar. Pada saat musuh sudah mendekati mereka, ia berkata
kepada temannya itu,
(janganlah
kamu bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita) (QS.
At-Taubah: 40)
Dalam perjalanan hijrahnya karena diusir
dari kampong halamannya, ia memberi kabar gembira kepada Suraqah, yang
membuntuti perjalanannya, bahwa dia akan memakai gelang Kisra.
Pada saat Perang Badar dia dengan
semangat mengenakan baju perangnya dan berkata,
(Golongan
itu akan dikalahkan dan mereka akan mundur kebelakang)
(QS. Al-Qamar: 45)
(Dan,
orang-orang yang sabar dalam kesempitan,
penderitaan dan dalam peperangan) (QS.
Al-Baqarah: 177).
Tidak Menerima Adalah Pintu Keraguan
Sikap tidak menerima akan membukakan
pintu keraguan kepada Allah, qadha`
dan qadhar, hikmah dan ilmu-Nya.
Jarang orang yang tidak menerima akan terhindar dari ancaman keraguan yang
menyusup kedalam hatinya. Kalaupun ia merasa yakin dapat menghindar dari
ancaman tersebut, itu hanaya perasannya. Namun kalaupun dirinya sendiri ia
korek dengan jujur, maka ia akan menyadari bahwa keyakinan telah tercemar dan
terasuki keraguan. Antara keridhaan dan keyakinan itu ada hubungan ‘saudara
yang sangat dekat’. Sedangkan keraguan tidak menerima adalah dua teman dekat .
inilah makna hadist yang diriwayatkan oleh Tarmidzi: “Jika engkau mampu berbuat dengan keridhaan dan keyakinan, maka
lakukanlah. Namun bila tidak mampu, maka dalam sikap sabar terhadap hal-hal
yang memberatkan jiwa terhadap kebaikan yang banyak sekali.”
Di dalam hati orang-orang yang tidak
menerima, tersimpan perasaan dendam dan terpendam marah, walaupun mereka tidak
mengungkapkannnya. Dihadapan mereka selalu ada kerumitan-kerumitan yang harus
dipecahkan dan pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab.
Nikmatnya Ilmu
Pengetahuan
(Dan,
dia telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia
Allah itu sangat besar) (QS. An-Nisa: 113)
Kebodohan merupakan tanda kematian jiwa,
terbunuhnya kehidupan dan busuknya umur.
(Sesungguhnya,
aku mengingatkan kepadamu supaya kamu tidak termasuk orang-orang yang tidak
berpengetahuan) (QS.
Hud: 46)
Sebaliknya, ilmu adalah cahaya bagi hati
nurani, kehidupan bagi ruh dan bahan bakar tabiat.
(Dan,
apakah orang mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepada cahaya
yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah
masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap
gulita yang berkali-kali tidak dapat keluar daripadanya)
(QS. Al-An`am: 122)
Kebahagiaan, kedamaian dan ketentraman
hati senantiasa berawal dari ilmu pengetahuan. Itu terjadi karena ilmu mampu
menembus yang samar, menemukan sesuatu yang hilang dan menyikap yang
tersembunyi. Selain itu, naluri dari jiwa manusia itu adalah selalu ingin
mengetahui hal-hal yang baru dan ingin mengungkap sesuatu yang menarik.
Kebodohan itu sangat membosankan dan
menyedihkan. Pasalnya, ia tidak pernah memunculkan hal baru yang lebih menarik
dan segar, yang kemarin seperti hari ini, dan yang hari ini pun akan sama
dengan yang akan terjadi esok hari.
Bila ingin senantiasa bahagia, tuntutlah
ilmu, galilah pengetahuan dan raihlah berbagai manfaat, niscaya semua,
kepedihaan, kesedihan dan kecemasan itu akan sirna.
(Dan
katakanlah: “Ya Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan)
(QS. Thaha: 114)
(Bacalah
dengan nama Rabb-mu Yang menciptakan) (Al-Alaq: 1)
“Barang
siapa yang Allah kehendaki kebaikan kepadanya, maka Allah akan pandaikan ia
dalam agama” (Al-Hadist)
Janganlah seseorang sombong dengan harta
atau kedudukannya, kalau ia memang tidak memiliki ilmu sedikitpun. Sebab,
kehidupannya tidak akan sempurna.
Sebab-sebab
yang Membuat Hati Menjadi Lapang
Ibnul Qoyyim menyebutkan beberapa hal
yang membuat dada menjadi lapang dan damai. Dari semua itu yang paling penting
adalah tauhid. Ddengan kebersihan dan kesuciannya tauhid itu bisa membuat hati
menjadi lapang, jauh lebih luas dari dunia dan isinya.
Bagi seseorang yang menyekutukan Allah
dan kafir kepada-Nya sebenarnya tidak berhak hidup. Allah berfirman,
(Dan,
barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya
kehidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam
keadaan buta) (QS.
Thaha: 124)
(Barang
siapa Allah menghendaki akan memberikan kepadanya hidayah, niscaya Dia
melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam) (QS. Al-An`am: 125)
(Maka,
apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk menerima agama Islam,
lalu ia mendapat hidayah dari Rabb-nya sama dengan orang yang membantu hatinya)
(QS. Az-Zumar: 22)
Allah mengancam musuh-musuh-Nya dengan
kesempitan hati, rasa takut, khawatir, kegundahan dan keguncangan jiwa.
(Kami
akan memasukkan kedalam hati orang-orang yang kafir itu rasa takut, disebabkan
mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan
keterangan tentang itu) (QS. Ali`Imran: 151)
(Maka,
kecelakaan besarlah bagi mereka yang telah membantu hatinya untuk mengingat
Allah) (QS.
Az-Zumar: 22)
(Dan,
barang siapa Allah kehendaki kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya
sempit, seolah-olah sedang mendaki langit) (QS.
Al-An`am: 125)
Selain bahwa tauhid adalah ilmu yang
bermanfaat, para ulama adalah orang yang paling lapang dadanya, orang yang
paling bahagia, dan orang yang paling senang. Merakalah pemegang warisan yang
ditinggalkan Rasulullah.
(Dan,
Dia telah mengjarkan apa yang belum kamu ketahui) (An-Nisa`: 144)
(Maka,
ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Rabb (yang haq) melainkan Allah) (QS. Muhammad: 19)
Amal salih juga termasuk hal-hal yang
membuat dada lapang. Kebaikan itu adalah cahaya didalam hati, sinar diwajah,
kelapangan dalam rezeki dan ungkapan cinta didalam hati orang-orang disekitar.
BAB
III
KESIMPULAN
Buku ini salah satu buku untuk mengembangkan diri,memotivasi dan tentang
keagamaan. Banyak manfaat dan pelajaran yang dapat kita dapatkan dengan kita
membaca buku La Tahzan ini. Kita merasa kalah, sedih karena kehilangan, bahkan
merasa diri kita terhina, dan merasa apa yang kita inginkan tak sesuai yang
kita dapatkan, yakinlah dibalik itu semua ada sebuah hikmah yang dapat kita
pati dari hal tersebut. Janganlah merasa bahwa cobaan yang menimpa kita itu
berat karena Allah tidak akan memberikan cobaan diluar dari kemampuan hambanya
dan sadarlah bahwa masih banyak orang lain yang mengalami cobaan yang lebih
berat dari yang kita alami. Jadi, tidak ada alasan untuk bersedih terus menerus
dan selalu menyalahkan diri sendiri atas semua cobaan yang kita alami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar